Banda Aceh, Aceh – Memasuki fase tanggap darurat pasca bencana, PT Pertamina (Persero) memprioritaskan jaminan stabilitas pasokan energi di dua wilayah terdampak, Aceh dan Sumatera Utara. Langkah strategis diambil dengan memperkuat buffer stock di terminal-terminal BBM dan depot elpiji utama untuk mengamankan pasokan jangka pendek dan menengah.
Di Aceh, tim teknis Pertamina terus memantau kondisi infrastruktur vital seperti pipa transmisi dan jaringan distribusi. Pemeriksaan rutin dilakukan untuk memastikan tidak ada kerusakan yang membahayakan kelancaran operasi. Perbaikan segera akan dilakukan jika ditemukan titik-titik rawan pasca bencana.
Sementara untuk wilayah Sumatera Utara, khususnya daerah yang akses jalannya terputus, Pertamina mengoptimalkan penggunaan mobil tangki dan mendirikan pos pelayanan darurat. Pendistribusian BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar juga menjadi perhatian khusus untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kesulitan.
Koordinasi intensif dilakukan dengan aparat keamanan untuk mengamankan proses distribusi dan mencegah praktik penimbunan atau pembelian yang tidak wajar. Pertamina juga membuka kanal pengaduan bagi masyarakat yang menemui kesulitan dalam mengakses BBM atau elpiji di wilayah mereka.
Layanan pelanggan juga ditingkatkan kapasitasnya untuk menangani laporan dan keluhan dari masyarakat terkait distribusi energi. Respon yang cepat diharapkan dapat meredam gejolak dan kepanikan di tingkat akar rumput. Informasi mengenai titik-titik distribusi yang aktif juga disebarluaskan melalui media sosial dan koordinasi dengan kepala desa.
Komitmen Pertamina dalam situasi ini adalah memastikan bahwa krisis bencana alam tidak diikuti dengan krisis energi. Dengan terjaganya stabilitas pasokan BBM dan elpiji, diharapkan aktivitas pemulihan, evakuasi, dan kehidupan sehari-hari masyarakat dapat terus berjalan sebaik mungkin.