Kementerian Pendidikan: 3,9 Juta Anak Tidak Mengenyam Pendidikan

Senin, 19 Mei 2025

    Bagikan:
Penulis: Bakhtiar Hadi
(TEMPO/ Febri Angga Palguna)

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, atau yang dikenal sebagai Kemendikdasmen, melaporkan bahwa saat ini terdapat 3,9 juta anak yang tidak bersekolah. Dari jumlah tersebut, 881.168 anak putus sekolah, 1.027.014 anak telah lulus tetapi tidak melanjutkan pendidikan, dan 2.077.596 anak belum pernah bersekolah. Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menyampaikan informasi ini dalam rapat dengar pendapat dengan panitia kerja pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T), serta daerah marginal bersama Komisi X DPR. Tatang mengungkapkan bahwa faktor ekonomi adalah penyebab utama anak-anak tidak bersekolah. "Berdasarkan pengamatan kami, faktor ekonomi dan bekerja adalah penyumbang terbesar bagi anak-anak yang tidak bersekolah," kata Tatang di kompleks parlemen, Jakarta, pada Senin, 19 Mei 2025. Ia juga menjelaskan bahwa faktor utama putus sekolah cenderung terjadi pada usia yang lebih tinggi. Semakin bertambah usia, semakin besar kemungkinan untuk tidak bersekolah. Selain biaya dan mencari nafkah, mengurus rumah tangga serta menikah juga menjadi faktor signifikan yang menyebabkan anak tidak bersekolah.

Berdasarkan data dari Kemendikdasmen, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan anak tidak bersekolah, antara lain tidak memiliki biaya (25,55 persen), mencari nafkah atau bekerja (21,64 persen), menikah atau mengurus rumah tangga (14,56 persen), merasa pendidikan yang didapat sudah cukup (9,77 persen), disabilitas (3,64 persen), jarak sekolah yang jauh (2,61 persen), serta mengalami perundungan (0,48 persen). Tatang menyatakan bahwa Kementerian masih melihat adanya kesenjangan pendidikan yang signifikan, terutama terkait kemampuan keluarga miskin dalam mengakses pendidikan. "Kami mengamati berbagai intervensi yang telah dilakukan, seperti BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan KIP (Kartu Indonesia Pintar), memberikan kontribusi yang cukup baik, namun masih terdapat selisih yang perlu kami perbaiki," ungkapnya. Meskipun demikian, Tatang menjelaskan bahwa tren antara tahun 2022-2024 menunjukkan bahwa perbandingan antara kelompok terkaya dan termiskin semakin menyusut, terutama pada usia-usia awal pendidikan seperti sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. "Namun, perbedaan antara kelompok termiskin dan terkaya masih terlihat jelas di tingkat sekolah menengah atas. Ini menjadi tantangan bagi kami untuk fokus pada beberapa area yang menjadi kendala dalam angka ketidakbersekolahan," kata Tatang.

(Bakhtiar Hadi)

Baca Juga: Kemenag Beri Penghargaan FKUB Dan Pemda Pelopor Kerukunan Di Harmony Award 2025
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.